Islam Konservatif dan Masalah Bangsa


Di beberapa media minggu ini diberitakan bahwa LSI menyatakan bahwa identitas keislaman lebih menonjol ketimbang kebangsaan.

Pendapat serupa juga muncul dari hasil penelitian oleh Institute Goethe yang menyatakan bahwa bahwa generasi muda muslim Indonesia konservatif.

Kesimpulan konservatif tersebut didasarkan dari hasil penelitian bahwa dari 1500 responden, 98% tidak setuju dengan seks sebelum nikah. 99% tidak menerima homoseksualitas dan 89% menolak mengkonsumsi minuman beralkohol.

Pertanyaannya, apakah benar islam konservatif bertentangan dengan rasa kebangsaan?

Konservatisme dan Masalah Bangsa

Istilah konservatif sebenarnya tidak tepat untuk menyebut islam. Kata ini berasal dari bahasa latin, conservare yang berarti mempertahankan. Maksudnya adalah gerakan dan filsafat sosial politik yang menginginkan lembaga tradisional tetap eksis dalam masyarakat.

Hal ini sangat terpengaruh dengan renaissance Eropa yang mendelegitimasi urgensi lembaga dalam mengatur kehidupan sosial politik masyarakat. Pada waktu itu, lembaga agama dianggap telah melakukan manipulasi dan kehilangan rasionalitas yang melemahkan perkembangan masyarakat.

Dalam konteks politik, istilah ini pertama kali digunakan di Inggris sebagai gerakan menentang revolusi prancis 1819 karena menginginkan adanya stabilitas politik.

Dalam perkembangannya, istilah ini juga digunakan sebagai label terhadap gerakan islam yang lebih mengedepankan pemahaman islam berdasarkan dalil dalam alquran dan sunnah dibandingkan penggunaan akal. Artinya bahwa akal harus disesuaikan dengan kehendak wahyu.

Berdasarkan pengertian di atas, maka kesimpulan dari penelitian tersebut tentu terasa aneh. Justru terkesan mempunyai kepentingan untuk merombak sistem sosial masyarakat Indonesia yang selama ini terkenal dengan kesopanan dan keramahtamahannya.

Penelitian ini menunjukkan indikasi untuk mendukung penyebaran seks sebelum menikah, melegalkan homoseksual dan minum-minuman keras di tengah masyarakat.

Padahal dibalik ketiga persoalan tersebut, ada efek cukup besar yang tidak hanya sekedar urusan seks dan kesenangan, melainkan juga mempengaruhi sistem masyarakat, budaya, bahkan masa depan bangsa.

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika pergaulan bebas dilegalkan. Sementara selama ini sudah cukup banyak penelitian yang menunjukkan pergaulan anak-anak muda yang semakin mengkhawatirkan.

Akibatnya semakin banyak mereka yang yang menggugurkan kandungan, atau melahirkan bayi-bayi tanpa kejelasan identitas.

Homoseksual dan minum minuman keras juga tidak kalah berbahaya. Mereka yang melegalkan keduanya tentu akan menjadikan hedonisme sebagai tujuan hidup. Bagi mereka, hidup hanya sekedar kesenangan semata.

Jadilah Islam Konservatif!

Membaca berita ini, saya teringat dengan diskusi saya tiga tahun yang lalu dengan seorang pemuda dari Jerman di Bali. Saat itu ia mengatakan bahwa apa bedanya seks dengan sesama jenis atau berbeda jenis. Toh, rasanya juga sama.

Ia juga menilai bahwa sorga dan neraka sesudah kehidupan dunia itu tidak ada. Tidak lebih sebatas ilusi. Karena sorga yang sesungguhnya adalah ketika kita merasakan kesenangan, seperti mendapat mobil baru, mendapat rumah, dan alasan-alasan materialis lainnya.

Sementara neraka tidak lebih dari hal-hal yang tidak mengenakkan dalam hidup kita di dunia ini. Oleh karena itu, pemisahan urusan agama dan dunia perlu dilakukan.

Jika pemahaman dan persoalan serupa semakin berkembang di tengah masyarakat, tentu hal ini akan menambah deretan persoalan bangsa. Moralitas bangsa akan semakin rapuh.

Korupsi akan semakin meraja lela. Bahkan rasa solidaritas sosial antara sesama semakin menipis. Maka bagaimana lagi nasib bangsa ini kedepan jika para pemuda terbuai dengan budaya hedonis. Oleh karena itu, gerakan untuk menjaga moralitas bangsa di perlukan.

Jika saja memang islam konservatif diartikan sebagai pemahaman dan keyakinan untuk menjaga diri dari pergaulan bebas, homoseksual dan minum minuman keras, tidak salah jika kita mendukung islam konservatif. Bahkan kita pun perlu menjadi bagian dari gerakan moral ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>